Belajar, Sebuah Langkah Awal Perubahan
Oleh: Ahmad Fajrul Falah

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001), belajar diartikan sebagai berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu. Hal ini mengindikasikan bahwa belajar pada hakekatnya merupakan kebutuhan setiap manusia. Aktivitas inilah yang memegang peran kunci dalam suatu proses perubahan dan perkembangan setiap manusia dalam lembaran hidupnya. Sejak pertama kali menapakkan kaki di dunia ini, kita sudah dituntut untuk belajar banyak mengenai kehidupan. Seorang bayi yang baru saja lahir akan mengawali belajar pertamanya lewat berkomunikasi dengan lingkungannya. Bayi tersebut akan tampak senantiasa berusaha untuk dapat berkomunikasi dengan lingkungannya terutama dengan ibunya. Bayi tersebut juga belajar mengenai ekspresi, mulai dari menangis hingga tertawa, sekalipun orang-orang di sekelilingnya belum bisa memahami apa yang ada dalam pikiran bayi tersebut. Selanjutnya bayi akan belajar merangkak dan kemudian berjalan hingga berlari. Demikianlah seterusnya, untuk mewujudkan suatu perubahan atau perkembangan dalam hidup harus diawali dengan belajar.

Belajar juga memegang peran utama dalam skenario perkembangan peradaban dunia ini. Berawal dari aktivitas inilah nama-nama besar seperti Thomas Alfa Edison, Albert Enstein, dan Alexander Volta serta nama-nama besar lainnya berhasil menorehkan tinta emas dalam catatan sejarah peradaban dunia ini dengan penemuan-penemuan mutakhir mereka. Berkat usaha keras mereka, kini kita dapat lebih merasakan berbagai kemudahan dalam hidup. Bayangkan jika tidak ada orang yang mau belajar dan berusaha untuk menciptakan bola lampu, barangkali saat ini kita masih berkelit dengan kegelapan malam. Bayangkan jika tidak ada orang yang mau belajar dan berusaha untuk menciptakan alat telekomunikasi seperti telepon ataupun handphone, mungkin saat ini kita masih harus mengandalkan Pak Pos untuk menyampaikan surat kita.
Melihat peranannya yang sangat vital, maka tidak berlebihan jika para pejuang kita terdahulu seperti Ki Hajar Dewantara dan R.A. Kartini berusaha mati-matian untuk memperjuangkan pendidikan bagi rakyat pada masa penjajahan. Dari berbagai sumber sejarah Indonesia yang sering kita jumpai, mayoritas rakyat Indonesia digambarkan sebagai sekelompok manusia yang bodoh pada masa penjajahan. Maka tak mengherankan jika negeri kita dahulu pernah berada dalam cengkeraman imperialis genap tiga setengah abad lamanya. Hal ini menunjukkan betapa tidak berdayanya bangsa kita pada saat itu.
Kita tentu masih ingat tentang peristiwa hancur leburnya Hiroshima dan Nagasaki yang menandai berakhirnya Perang Dunia II. Pasca peledakan Hiroshima-Nagasaki terjadi, Hirojito, Perdana Menteri Jepang waktu itu, tidak menanyakan berapa kekayaan negara yang tersisa, berapa tentara yang masih hidup atau berapa rakyat yang meninggal sekalipun. Akan tetapi yang pertama kali ditanyakannya tak lain dan tak bukan adalah: “Berapa guru yang masih tersisa?”. Perdana menteri tersebut nampaknya telah sadar betul akan pentingnya “manusia cerdas” dalam masa pembangunan kembali negeri yang telah luluh lantak itu, dan benarlah apa yang ia pikirkan, hasilnya dapat kita lihat saat ini dimana Jepang sekarang telah menjadi negara yang besar dan kuat. Sekalipun sumber daya alam (SDA) yang mereka miliki terbatas, tetapi mereka mempunyai sumber daya manusia (SDM) yang sangat bisa diandalkan. Hal inilah yang belakangan ini membuat mereka dapat menguasai dunia.
Apa kabar Indonesiaku hari ini? Jutaan hektar lahan pertanian tersebar di seluruh bumi pertiwi. Hamparan hutan yang sangat luas, semakin menghijaukan bumi Indonesia ini. Luasnya lautan yang kita miliki semakin mewarnai negara yang dikenal dengan gelar gemah ripah loh jinawi ini. Tidak hanya sampai di situ saja, sejumlah daerah tambang minyak bumi dan barang tambang lainnya semakin melengkapi daftar kekayaan alam yang kita miliki. Melihat panjangnya daftar kekayaan alam yang kita miliki ini, maka sangat tidak rasional untuk menggambarkan keadaan negara kita seperti yang terjadi saat ini. Dari 174 negara anggota PBB yang disurvey berdasarkan tingkat taraf hidup masyarakatnya, Indonesia hanya menempati urutan ke-109 pada tahun 2000 dan meningkat menjadi 111 pada tahun 2004 (Indeks Pembangunan Manusia Indonesia).
Dengan catatan kekayaan alam yang kita miliki seperti saat ini seharusnya Indonesia menjadi negara terbesar di dunia. Jika kita telusuri dengan seksama, kita akan menemukan kesalahan yang paling fundamental yakni bangsa kita tidak mau belajar untuk memaksimalkan potensinya. Seperti kita ketahui bersama, bangsa kita tampak lebih sibuk meraup keuntungan dengan menjual tambang yang dimiliki daripada belajar mengolah sendiri tambang tersebut. Maka tidak mengherankan jika selama ini headline media masa menyebutkan bahwa Indonesia sebagai salah satu negara penghasil minyak bumi terbesar di dunia ini justru mengimpor BBM. Selanjutnya, kita juga sering mendengar berita mengenai penjualan hutan di berbagai media. Padahal jika bangsa kita mau belajar lebih banyak lagi, sesungguhnya jutaan kayu dagang hasil penebangan liar tersebut masih memiliki nilai lebih dari sekedar kayu gelondongan biasa.
Seolah tak mau belajar dari kesalahan, dari hari ke hari kasus penjajahan serta pemiskinan bagi bangsa sendiri (baca: korupsi) di kalangan petinggi negara justru semakin menjadi. Maka tidak perlu kaget jika pada akhirnya, The Political and Economic Risk Consultancy Ltd. (PERC) Januari–Februari 2005, sempat menganugerahi Indonesia dengan penghargaan peringkat pertama negara terkorup di Asia. Sebuah penghargaan yang terlampau menyedihkan. Sungguh para founding fathers kita akan benar-benar tertampar jika mengetahui semua jerih payah mereka pada masa lalu hanya akan berakhir seperti saat ini.
Ketidakberdayaan bangsa kita akan lebih tampak ketika kita membuka mata dan melihat berbagai produk yang ada di sekitar kita. Berapa banyak produk luar negeri yang telah kita konsumsi? Adakah produk dalam negeri yang kita konsumsi? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini tentunya menimbulkan pertanyaan besar tentang “Sesungguhnya kita hidup di negara mana?”. Pertanyaan ini harus kita jawab bersama dengan mulai belajar untuk menciptakan karya sendiri.
Indonesia harus bisa berdiri sendiri dan tidak bergantung lagi pada negara lain. Semua elemen mulai dari pemerintah hingga masyarakat harus bersatu padu untuk belajar mengoptimalkan sumber daya alam yang kita miliki. Bangsa kita harus dapat memenuhi kebutuhannya sendiri, atau jika perlu bangsa kita dapat mengekspor produk-produknya ke seluruh penjuru dunia. Memang hal ini cukup sulit untuk diwujudkan, tetapi ini bukanlah sebuah pilihan. Hal ini memang harus segera kita rintis. Modal dari sumber daya alam (SDA) kita jauh lebih melimpah dibandingkan dengan apa yang dimiliki Jepang pasca Perang Dunia II. Namun dengan kegigihan mereka, hal yang awalnya dirasa sulit itu pun dapat dilalui dan hasilnya telah kita lihat selama ini.
Persoalan lain adalah mengenai bencana alam yang sering terjadi belakangan ini. Seperti kita ketahui bersama, negara kita sering dilanda bencana banjir dan tanah longsor. Jika bencana alam ini terjadi sekali sampai tiga kali itu masih dapat dimaklumi, namun apabila bencana tersebut terus berulang, maka timbul pertanyaan, “Apa yang salah?”. Kita seharusnya belajar dari kesalahan yang telah terjadi. Terutama pada kasus bencana banjir yang menimpa berbagai wilayah di Indonesia belakangan ini, seharusnya kita mempelajari skenario bencana sebelumnya kemudian melakukan evaluasi. Yang dapat kita saksikan saat ini, pemerintah di daerah-daerah yang sering dilanda banjir lebih sibuk menyiapkan perahu karet dan tim SAR menjelang musim penghujan tiba daripada merehabilitasi sungai untuk kelancaran aliran air nantinya atau dengan mengkaji ulang daerah resapan air (DRA) yang ada di wilayahnya. Dengan kata lain, mereka sengaja membiarkan ratusan rumah warganya tenggelam di musim penghujan sekalipun sebelumnya mereka telah mengetahui bahwa bencana banjir akan melanda wilayahnya.
Masih banyak lagi persoalan dan tantangan yang kita hadapi saat ini dan hari esok. Untuk melewati semua itu, tentunya kita butuh pengetahuan yang mendukung. Kita dapat bercermin pada keberhasilan negara-negara lain yang telah berhasil memaksa dunia menampakkan decak kagumnya setelah melihat hasil usaha mereka. Diperlukan suatu gerakan dari semua elemen secara simultan dan terencana untuk segera mewujudkan mimpi besar tersebut. Jika seluruh elemen bangsa ini mau belajar, tentunya bukan hal yang mustahil untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara yang besar. Perumpamaan orang cerdas dapat mengubah sebongkah batu menjadi gunung emas, sebaliknya orang bodoh hanya akan mengubah gunung emas menjadi sebongkah batu. Kuncinya adalah jika bangsa kita ini ingin berubah, maka sebagai langkah awalnya bangsa kita harus mau belajar.

0 comments

Post a Comment