Biarkan Kami Gagal!
oleh: Ahmad Fajrul Falah
Sepertinya tidak akan hilang dari benak kita dua seri iklan rokok tentang kepemudaan yang belum lama ini menghiasi layar kaca di rumah kita. Dua seri iklan ini berhasil merebut perhatian publik sejak pertama kali ditayangkan. Seri pertama iklan ini langsung melejit dengan jargonnya “Yang Muda Yang Gak Dipercaya”. Iklan tersebut menceritakan tentang seorang karyawan muda yang akan berangkat untuk presentasi. Sebelum berangkat, karyawan muda itu meminta izin kepada seniornya yang jauh lebih tua terlebih dahulu. Setelah itu, sang senior mendandani juniornya sampai benar-benar mirip dengan dirinya. Setelah sang junior berpenampilan mirip seperti sang senior yakni dengan tubuh pendek, kepala botak, kumis tebal, dan segala perangkatnya, sang senior berkata, “Ini baru keren!” sang junior pun membalas, “Keren dari Hong Kong?”
Suskes iklan seri pertama berlanjut pada seri kedua iklan tersebut. Seri kedua iklan itu berhasil menyita perhatian publik dengan jargonnya “Belum Tua Belum Boleh Bicara”. Iklan tersebut menceritakan tentang perjalanan wisata sekelompok orang tua. Pemandu wisata dalam perjalanan tersebut adalah seorang wanita muda yang cukup profesional. Akan tetapi profesionalitas kerja saja tampaknya tidak cukup untuk dapat menarik perhatian para orang tua tersebut. Usianya yang masih muda tampaknya membuat para orang tua tersebut enggan mendengarkan penjelasannya. Setiap kali pemandu muda itu memberikan penjelasan, para orang tua justru pura-pura tidur bahkan pemandu sampai harus mengambil inisiatif untuk berpura-pura berpaling sejenak dan kemudian melanjutkan penjelasannya. Namun ternyata inisiatif yang diambil pemandu muda itu tidak berhasil sama sekali. Akhirnya sang pemandu bertukar posisi dengan sopir bus yang notabene sudah “cukup umur”. Sang sopir ternyata hanya cukup memegangi corong speaker dan mengarahkannya pada para penumpang sambil sedikit melakukan gerakan seolah sedang memberikan penjelasan, sedangkan sang pemandu muda tetap memberikan penjelasan sambil mengendalikan stir bus. Cara ini ternyata berhasil, para wisatawan akhirnya mau mendengarkan penjelasan pemandu hanya karena yang ada dihadapan mereka adalah orang yang seusia dengan mereka.
Terlepas dari bahaya produk yang mendalangi iklan tersebut, sebenarnya kedua seri iklan itu memiliki makna yang sangat mendalam sebagai visualisasi kondisi pemuda Indonesia saat ini. Jika kita sadari, kedua seri iklan itu sebenarnya memiliki satu persamaan yang fundamental yakni generasi muda tidak lagi dihargai hanya karena faktor bioogisnya saja. Kedua seri iklan tersebut secara halus menggambarkan peran pemuda yang saat ini makin introvert. Keberadaan generasi muda dalam kancah elite politik atau roda pemerintahan dari hari ke hari semakin tidak dihargai. Tidak tanggung-tanggung, kedua seri iklan tersebut secara ekstrim memperlihatkan betapa peran pemuda hampir selalu berada di balik layar sampai-sampai penampilan fisik layaknya seorang senior (tua) yang umumnya digambarkan dengan tubuh pendek gemuk, kepala botak, kumis tebal, dan sebagainya sangat mempengaruhi penghargaan terhadap kinerjanya. Dengan kata lain, saat ini generasi muda secara makro dianggap belum layak untuk mengeluarkan suaranya atau tampil untuk menunjukkan kekuatan idealismenya. Dalam hal ini, jika dianalogikan seperti dunia wayang, pemuda hanya dijadikan wayangnya, sedangkan dalangnya adalah golongan tua. Semua pihak harus arif dalam menyikapi kritik sosial yang diusung iklan tersebut dan menjadikannya evaluasi bagi kita bersama.
Seperti yang kita ketahui bersama bahwa pemuda Indonesia selama ini hampir tidak mendapat tempat sedikit pun dalam percaturan kehidupan negaranya. Segala keputusan yang ada sampai saat ini hampir bisa dikatakan produk golongan tua sepenuhnya. Generasi muda dianggap belum pantas untuk bersanding atau disejajarkan dengan generasi tua untuk mengemukakan pendapatnya. Tak jarang pemuda dipersilakan untuk menyuarakan aspirasinya, akan tetapi suara pemuda itu tak jarang pula hanya dijadikan angin lalu layaknya commercial break di televisi. Jalinan aspirasi yang telah dipaparkan para pemuda umumnya hanya ditampung tanpa ada tindak lanjutnya. Kesempatan yang diberikan golongan tua pada generasi muda selama ini mayoritas terkesan hanya untuk “menghibur” atau “menyenangkan hati” generasi muda itu sendiri.
Pada hakekatnya, generasi muda merupakan generasi penerus bangsa yang kelak akan mewarisi bangsa ini. Seperti kita ketahui bersama, pernyataan semacam ini bukanlah sesuatu yang baru, namun pernyataan ini sangat miskin implementasi. Pernyataan ini sepertinya hanya menjadi penghias rubrik surat kabar atau pelengkap pidato kita selama ini. Esensi dari pernyataan tersebut sampai saat ini hampir selalu dilupakan dan nilainya terkesan tak lebih dari sekedar kata mutiara pada berbagai media. Pernyataan ini hanya lebih sering digembar-gemborkan daripada dilakukan suatu langkah perwujudan yang nyata.
Konsekuensi logis dari pernyataan “pemuda sebagai generasi penerus bangsa” seharusnya adalah pemuda diberi kesempatan untuk campur tangan menentukan masa depan bangsanya. Akan tetapi, seperti kita ketahui bersama bahwa realita yang ada saat ini sangat jauh dari apa yang seharusnya terjadi. Di satu sisi mereka yang mengidentifikasikan diri sebagai kaum muda dengan segenap hasrat dan idealismenya ingin menunjukkan eksistensinya sebagai generasi penerus bangsa melalui buah pikir ideologis mereka, di sisi yang lain, mereka yang menamakan dirinya generasi senior (tua) justru terkesan menutup diri seakan tak peduli.
Dominasi Golongan Tua dan Ancaman Masa Depan Bangsa
Perlu kita sadari betul bahwa dominasi golongan tua di hampir seluruh aspek percaturan suatu bangsa sesungguhnya sangat tidak baik. Hal ini akan membawa dampak negatif yang cukup kuat dan berkepanjangan yang akhirnya akan berakibat fatal bagi masa depan bangsa itu sendiri. Jika dominasi semacam ini terus dibiarkan terjadi, maka generasi muda akan sangat miskin pengalaman dalam dunia percaturan bangsanya. Dengan kata lain, generasi muda nantinya belum memiliki persiapan untuk menerima estafet kepemimpinan dari seniornya.
Generasi muda tidak memiliki keterampilan dan pengalaman yang memadai untuk menjalankan roda pemerintahan bangsanya saat waktu penyerahan estafet kepemimpinan tiba. Jika hal semacam ini benar-benar terjadi nantinya, maka petaka yang mahadahsyat tak mungkin dapat terelakkan lagi. Roda pemerintahan bangsa ini akan dijalankan oleh manusia-manusia yang tidak punya visi dan misi yang kuat dan mantap. Bangsa ini akan terombang-ambing layaknya sebuah kapal di tengah lautan dan hanya mampu menunggu kapan kapal itu akan tenggelam. Sungguh ironi memang, namun demikianlah kemungkinan yang akan terjadi jika problematika ini tidak segera mendapatkan perhatian dari semua pihak.
Sementara itu, terbatasnya ruang gerak pemuda dalam dunia percaturan bangsa selama ini membuat generasi pemuda mayoritas hanya berperan sebagai pressure group. Manifestasinya jelas terlihat nyata di sekeliling kita yakni banyaknya aksi demonstrasi yang mayoritas dibawakan oleh golongan pemuda seperti mahasiswa bahkan pelajar. Ironisnya, demonstrasi itu rata-rata berakhir dengan kekerasan atau tindakan anarki. Fenomena seperti inilah yang kemudian dianggap layak untuk dijadikan alasan guna mengesankan bahwa generasi muda kita saat ini adalah generasi yang brutal, padahal tidak sepenuhnya demikian. Ketidakpuasan pada keputusan generasi senior dan minimnya komunikasi antara generasi muda dengan seniornya inilah yang sebenarnya dapat menjelaskan mengapa aksi demonstrasi generasi muda selama ini kerap terjadi. Ruang yang serba terbatas mengakibatkan generasi muda terpaksa mengambil alternatif tersebut untuk mengungkapkan refleksi mereka mengenai situasi sosial yang sedang terjadi dalam kehidupan bangsanya.
Hampir tidak ada perubahan yang signifikan pada seluruh aspek kehidupan bangsa kita selama ini juga merupakan akibat dari dominasi golongan tua yang sangat kuat pada semua sektor. Hal ini dapat dijelaskan dengan minimnya inovasi-inovasi yang ada pada seluruh aspek kehidupan bangsa kita selama ini. Grafik perkembangan bangsa ini secara umum dalam kehidupan sehari-hari dapat kita katakan masih cukup datar. Tidak banyak peningkatan yang signifikan sekalipun enam puluh tiga tahun sudah bangsa kita ini merdeka. Hal ini selanjutnya yang dapat menjawab pertanyaan mengapa bangsa kita tidak mampu berkembang pesat dan menjadi negara maju layaknya Jepang, Amerika, bahkan seperti negara tetangga kita, Malaysia sekalipun.
Pemuda Gagal Itu Biasa Tetapi Pemuda Tanpa Karya Itu Bencana
Alasan klasik yang sering dilontarkan untuk menjawab kompleksnya problematika ini adalah karena pemuda kurang pengalaman dan paling memprihatinkan yakni alasan umur yang dianggap belum mencukupi masih sering dikambinghitamkan dalam problematika semacam ini. Disadari atau tidak, pernyataan semacam ini sebenarnya sungguh tidak relevan untuk mengukur profesionalitas seseorang. Selanjutnya, pertanyaan yang cukup menggelitik yakni jika generasi muda tidak diberikan kesempatan untuk turut mengeluarkan suaranya, lalu kapankah generasi ini akan mendapatkan pengalaman seperti yang diinginkan generasi tua tersebut? Apakah para pemuda harus mendapatkan pengalaman tersebut kelak ketika sudah “cukup umur”? Bukankah mendapatkan pengalaman sebanyak-banyaknya sejak dini justru lebih baik dan akan sangat membantu untuk masa depannya sebagai generasi penerus bangsa ini? Selanjutnya, melihat pada realita yang ada, sebenarnya dimanakah letak kesalahan jika memberikan kesempatan pada pemuda untuk turut campur tangan dalam urusan masa depan bangsanya? Sekali lagi, kita harus arif dalam menyikapi rumitnya problematika ini.
Alasan lain yang sering diungkapkan mengenai problem krisis kepemudaan ini adalah generasi tua khawatir generasi muda mendapat kesulitan dan mengalami kegagalan. Pemuda dianggap kurang pengalaman dan pengetahuan untuk dapat menyelesaikan problematika bangsanya. Menanggapi pernyataan semacam ini sudah selayaknya logika kita bekerja, bukankah kegagalan bisa terjadi kapan saja dan pada siapa saja tidak terkecuali generasi tua? Selanjutnya, haruskah kita membiarkan kekhawatiran yang tidak berdasar semacam ini terus berlanjut? Tentu tidak. Seharusnya kita lebih takut untuk membayangkan apa yang akan menimpa bangsa ini kelak jika generasi mudanya tidak mempunyai pengalaman guna mengemban amanah bangsanya karena kepercayaan pada mereka hampir tidak ada.
Kita perlu memahami kembali konsep awal dari problematika ini yakni untuk mewujudkan generasi muda yang tangguh sebagai calon pemimpin bangsa, maka generasi tersebut harus dibekali dengan pengalaman yang sebanyak-banyaknya. Generasi muda harus diberikan kesempatan untut turut serta menyuarakan buah pikir ideologis yang mereka miliki secara layak. Generasi pemuda harus diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan karya mereka demi kemajuan bangsanya di masa mendatang. Selain itu, generasi muda sebaiknya diberikan bekal pengetahuan tentang “medan perangnya” kelak. Pengetahuan dan keterampilan ini sangat bermanfaat bagi generasi pemuda untuk dapat mengaplikasikan karyanya secara maksimal di masa mendatang.
Untuk dapat merealisasikan cita-cita di atas, generasi tua sebaiknya dengan segala keikhlasan demi kemajuan bangsanya untuk dapat memberikan suatu bentuk transfer knowledge kepada generasi mudanya. Generasi tua dan muda dengan kesadaran diri yang tinggi hendaknya dapat saling membuka diri guna memperkecil atau bahkan menghapus jurang gap multidimensional yang selama ini memisahkan keduanya. Transfer knowledge ini diharapkan tidak hanya bersifat pemberian materi saja tetapi juga disertai dengan bentuk kerja bersama dan saling mempercayai antar generasi.
Generasi tua tidak perlu merasa terancam posisinya dengan keberadaan pemuda di lingkungan mereka. Sebaliknya, justru generasi tua harus bangga dapat melahirkan dan membentuk generasi penerus bangsa yang lebih baik dari generasi mereka. Di lain pihak, generasi muda juga hendaknya tidak terlalu memaksakan diri untuk menunjukkan bahwa mereka yang paling benar. Semua pihak seharusnya tidak perlu berebut kekuasaan karena pada dasarnya amanah bangsa itu bukan untuk diperebutkan melainkan untuk dijalankan sebaik-baiknya demi masa depan bangsa yang notabene milik semua generasi ini.
Kegagalan yang mungkin dihadapi oleh generasi muda sebaiknya tidak diartikan sebagai akhir dari kepercayaan terhadap generasi tersebut. Kita harus bijaksana dengan melihat kegagalan yang mungkin dialami pemuda nantinya sebagai pelajaran yang berharga. Menyikapi kegagalan tersebut, generasi tua hendaknya bersikap arif dengan memberikan pengertian dan nasehat-nasehatnya tanpa mengurangi rasa percayanya pada generasi penerusnya itu. Sungguh bukan suatu sikap yang bijaksana jika melihat generasi penerus bangsa gagal dalam upaya belajarnya lantas menjadikannya sebagai alasan guna tidak memberikan kepercayaan pada mereka karena hal ini sama sekali tidak menyelesaikan masalah.
Kegagalan yang dialami generasi muda itu hendaknya dipandang sebagai suatu reaksi positif dari usaha generasi tersebut dalam upayanya guna merealisasikan ide karya yang ada dalam benak mereka. Dengan kegagalan yang telah mereka alami, diharapkan kegagalan itu nantinya tidak akan terjadi lagi ketika mereka menerima sepenuhnya estafet kepemimpinan dari generasi tua di kemudian hari. Dengan demikian, akan ada suatu perubahan positif pada grafik kepemimpinan bangsa ini nantinya.
Merintis Generasi Muda Sebagai Agen Perubahan
Perlu kita sadari betul bahwa setiap generasi muda di setiap eranya hampir selalu memiliki nilai positif yang khas yakni kreativitas. Nilai ini hampir selalu melekat pada setiap generasi muda dengan berbagai wujudnya. Nilai inilah yang sangat dibutuhkan guna merealisasikan suatu bentuk perubahan. Dengan mengoptimalkan nilai ini, generasi muda diharapkan mampu membawa perubahan positif pada bangsa yang sedang sakit ini.
Bangsa kita saat ini sedang dalam masa krisis yang sangat mengkhawatirkan. Krisis multidimensional yang masih melekat pada kehidupan bangsa ini sungguh tidak relevan guna menggambarkan kegigihan para founding fathers yang telah susah payah merintis bangsa ini. Berbagai problematika bangsa yang tak kunjung usai masih mewarnai kehidupan bangsa ini seperti tumpukan utang yang kian menggunung, korupsi yang merajalela, konflik antarsaudara terjadi di berbagai daerah, ketidaksiapan menghadapi kompetisi global, dan sebagainya. Krisis semacam ini seharusnya tidak terjadi pada bangsa kita yang dikaruniai kekayaan geografis yang sangat berlimpah. Hamparan hutan yang sangat luas menghijaukan bumi Indonesia ini. Luasnya lautan yang kita miliki semakin mewarnai negara yang dikenal dengan gelar gemah ripah loh jinawi ini. Tidak hanya sampai di situ saja, sejumlah daerah tambang minyak bumi dan barang tambang lainnya semakin melengkapi daftar kekayaan alam yang kita miliki. Panjangnya daftar kekayaan alam yang kita miliki ini tentunya sangat tidak rasional untuk menggambarkan keadaan negara kita seperti yang terjadi saat ini.
Melihat fenomena bangsa yang menyedihkan di atas, pemuda sebagai agen perubahan harus bisa memotong seluruh warisan generasi sebelumnya yang telah menyengsarakan bangsa kita selama ini. Generasi muda hendaknya mampu untuk mulai menyudahi segala penyakit bangsa ini. Dengan segala pengalaman, pengetahuan, keterampilan, serta kreativitas yang dimiliki, generasi muda hendaknya dapat membawa suasana baru yang positif dalam roda kehidupan bangsa ini. Pemuda hendaknya dapat merealisasikan cita-cita mulia para founding fathers yakni menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang kuat, mandiri, dan disiplin di setiap lini kehidupannya.
Demi mewujudkan cita-cita mulia ini, kita harus mulai berbenah diri. Semua pihak harus bersedia membuka diri. Generasi tua dengan segala dedikasi pada bangsanya, hendaknya dapat mengakui segala kesalahan dan problematika yang pernah menimpa generasi mereka. Generasi tua juga diharapkan untuk dapat memberikan pengalaman dan tambahan ilmu pada generasi mudanya guna melengkapi bekal yang dibutuhkan generasi penerus mereka itu. Generasi muda juga hendaknya mampu menahan diri dengan tidak serta merta melakukan pemberontakan karena hal itu sama sekali tidak menyelesaikan masalah yang ada. Pemuda harus mampu menafsirkan dan mencarikan solusi atas problematika bangsanya sebelum mereka menjadi bagian dari masalah itu sendiri. Menjadikan kegagalan sebagai pelajaran berharga merupakan sikap yang bijaksana bagi generasi muda yang kelak akan memimpin bangsa ini. Oleh karena itu, biarkanlah generasi muda untuk lebih mengenal bangsanya. Berikan kesempatan pada generasi muda untuk mengungkapkan buah karya pemikirannya. Selanjutnya, atas nama masa depan bangsa yang lebih cerah, biarkan kami gagal!


INI BUKTINYA : PUTUSAN SESAT PERADILAN INDONESIA
Putusan PN. Jkt. Pst No.Put.G/2000/PN.Jkt.Pst membatalkan demi hukum atas Klausula Baku yang digunakan Pelaku Usaha. Putusan ini telah dijadikan yurisprudensi.
Sebaliknya, putusan PN Surakarta No.13/Pdt.G/2006/PN.Ska justru menggunakan Klausula Baku untuk menolak gugatan. Padahal di samping tidak memiliki Seritifikat Jaminan Fidusia, Pelaku Usaha/Tergugat (PT. Tunas Financindo Sarana) terindikasi melakukan suap di Polda Jateng.
Ajaib. Di zaman terbuka ini masih ada saja hakim yang berlagak 'bodoh', lalu seenaknya membodohi dan menyesatkan masyarakat, sambil berlindung
di bawah 'dokumen dan rahasia negara'.
Maka benarlah statemen KAI : "Hukum negara Indonesia berdiri diatas pondasi suap". Bukti nyata moral sebagian hakim negara ini sudah sangat jauh sesat terpuruk dalam kebejatan.
Permasalahan sekarang, kondisi bejat seperti ini akan dibiarkan sampai kapan??
Sistem pemerintahan jelas-jelas tidak berdaya mengatasi sistem peradilan seperti ini. UUD 1945 mungkin penyebab utamanya.
Ataukah hanya revolusi solusinya??
David
HP. (0274)9345675
wah pak, kalo revolusi, sepertinya itu hanya kata2 radikal yang ujung2nya nyedot duit negara banyak banget.. menurut saya, kita perlu reformasi secara komprehensif.. jadi, manusia2 lama keluar semua, digantikan manusia2 baru (yang kompeten dan bersih), terutama orang2 birokratnya.. maaf, saya hanya menyuarakan aspirasi saya sebagai pemuda Indonesia.he3.. salam kenal pak..